---
title: "Dicky Budiman Ingatkan Bahaya Kabut Asap Karhutla bagi Bayi dan Anak"
type: "article"
published: "2026-10-20T11:47:11.000Z"
modified: "2026-10-20T11:47:11.000Z"
image: "https://jabarutama.com/media/2026/10/9924fbf3-Dicky-Budiman-Ingatkan-Bahaya-Kabut-Asap-Karhutla-bagi-Bayi-dan-Anak.jpeg"
url: "https://jabarutama.com/berita/dicky-budiman-ingatkan-bahaya-kabut-asap-karhutla-bagi-bayi-dan-anak"
markdown: "https://jabarutama.com/berita/dicky-budiman-ingatkan-bahaya-kabut-asap-karhutla-bagi-bayi-dan-anak.md"
language: "id"
---

# Dicky Budiman Ingatkan Bahaya Kabut Asap Karhutla bagi Bayi dan Anak

Jakarta (20/10). Paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan dapat menimbulkan dampak kesehatan berlapis, mulai dari gangguan pernapasan hingga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Pernyataan itu ditegaskan Epidemiolog Dicky Budiman yang juga Ketua DPP LDII, "Asap karhutla mengandung partikel halus PM2,5, karbon monoksida, serta sejumlah gas iritan yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu peradangan," ujarnya.

Ia menyebut dampak asap karhutla bisa bertingkat. Pada saluran napas bisa menimbulkan infeksi saluran pernapasan akut, batuk berkepanjangan, bronkitis, kekambuhan asma dan PPOK, hingga penurunan fungsi paru.

Menurut dia, dampak paparan asap tidak hanya menyerang sistem pernapasan. Partikel halus yang masuk ke dalam tubuh dapat memicu peradangan dan berpengaruh terhadap sistem jantung serta pembuluh darah.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, serta gangguan irama jantung. Paparan asap juga dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit, dan tenggorokan, termasuk konjungtivitis.

Dicky menekankan kelompok rentan perlu mendapat perhatian lebih. Bayi, anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta penderita penyakit kronis memiliki risiko lebih besar mengalami dampak kesehatan akibat paparan asap.

Pada ibu hamil, paparan asap dalam jangka panjang antara lain dikaitkan dengan risiko berat badan lahir rendah dan kelahiran prematur. Sementara pada anak, paparan berulang setiap musim karhutla dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan paru serta meningkatkan beban penyakit kronis di kemudian hari.

“Anak jauh lebih rentan karena frekuensi napasnya lebih cepat sehingga menghirup lebih banyak udara per kilogram berat badannya. Saluran napasnya juga lebih sempit dan parunya masih berkembang,” ujarnya.

Dicky mengatakan paparan asap pada bayi dan anak dapat memicu batuk berkepanjangan, infeksi saluran pernapasan berulang, infeksi telinga, sesak napas, hingga kekurangan oksigen. Jika terjadi berulang, kondisi tersebut berpotensi mengganggu tumbuh kembang serta perkembangan fungsi paru dan meningkatkan risiko asma.

Ia meminta masyarakat mengenali tanda bahaya akibat paparan asap. Warga perlu segera mendapatkan pertolongan medis apabila mengalami sesak napas, napas cepat, napas berbunyi atau terasa berat saat beristirahat, nyeri atau tekanan di dada, jantung berdebar tidak wajar, pusing hebat, hingga pingsan.

“Batuk terus-menerus yang semakin berat, batuk darah, demam tinggi, bibir atau ujung jari kebiruan juga merupakan tanda bahaya,” katanya.

Bagi penderita asma atau PPOK, lanjut Dicky, pertolongan medis perlu segera dicari apabila obat yang biasanya digunakan tidak lagi membantu. Pada anak, tanda bahaya antara lain tarikan dinding dada ke dalam saat bernapas, sulit minum, lemas, atau lebih banyak tidur dari biasanya.

\*Batasi Aktivitas di Luar\*

Dicky mengatakan masyarakat yang tidak memungkinkan mengungsi perlu mengurangi paparan asap semaksimal mungkin. Aktivitas di luar rumah, terutama olahraga berat, sebaiknya dibatasi ketika kualitas udara memburuk.

Warga juga disarankan menutup pintu, jendela, dan celah ventilasi ketika asap sedang tebal. Jika harus keluar rumah, penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus, seperti N95, dapat membantu mengurangi paparan.

“Jangan membakar sampah, jangan merokok, dan jangan memasak dengan menghasilkan asap di dalam ruangan,” ujarnya.

Selain itu, masyarakat perlu menjaga asupan cairan dan gizi serta memanfaatkan ruang evakuasi atau shelter dengan udara lebih bersih yang disediakan pemerintah apabila tersedia.

Khusus untuk keluarga dengan bayi dan anak, Dicky menyarankan agar satu ruangan di rumah, terutama kamar tidur anak, dijadikan ruang yang paling minim paparan asap.

Jika tersedia, alat penjernih udara dapat digunakan. Celah di bawah pintu dapat ditutup dengan kain atau penghalang untuk mengurangi masuknya asap. Pintu juga sebaiknya tidak terlalu sering dibuka ketika kondisi udara di luar sedang buruk.

“Bersihkan lantai dan permukaan ruangan dengan kain basah dan jangan menyalakan sumber asap di dalam rumah. Anak-anak dan bayi sebaiknya tidak dibawa keluar ketika asap tebal,” katanya.

Dicky menambahkan, apabila kondisi kesehatan anak memburuk atau paparan asap di rumah sudah tidak dapat dikendalikan, keluarga perlu mempertimbangkan untuk mengungsi ke lokasi yang memiliki kualitas udara lebih baik.

Asupan cairan, termasuk pemberian ASI yang cukup pada bayi, juga perlu diperhatikan. Orang tua diminta memastikan kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi serta memantau kondisi dan tanda-tanda bahaya selama periode kabut asap.

---
Sebelumnya: [Pemprov Jabar Ajak LDII Perkuat Kolaborasi Strategis Wujudkan Pembangunan Daerah yang Inklusif](https://jabarutama.com/berita/pemprov-jabar-ajak-ldii-perkuat-kolaborasi-strategis-wujudkan-pembangunan-daerah.md)
